Menembus Medan Berat, BRMP Gorontalo Monitoring Program Cetak Sawah Rakyat di Pohuwato
GORONTALO – Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Gorontalo terus mengawal percepatan pelaksanaan Program Cetak Sawah Rakyat (CSR) Tahun 2026 melalui kegiatan monitoring dan evaluasi lapangan di Kabupaten Pohuwato. Kegiatan yang dipimpin langsung oleh Kepala Balai Besar BRMP Gorontalo, Ardi Praptono, S.P., M.Agr., ini bertujuan memastikan pelaksanaan program berjalan sesuai target sekaligus mengidentifikasi berbagai kendala yang dihadapi di lapangan sebagai dasar penyusunan langkah percepatan penyelesaian pekerjaan.
Dalam pelaksanaan monitoring tersebut, Kepala BRMP Gorontalo didampingi Tim Teknis CSR, yakni Ir. Nitam Kasim, S.P. dan Yurizal Biahimo, S.TP., bersama pelaksana kegiatan dari Kodim 1313/Pohuwato, Koordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Randangan, serta Penyuluh Pertanian Lapangan. Untuk menjangkau lokasi yang memiliki akses cukup berat, rombongan menggunakan sepeda motor trail menuju sejumlah titik pekerjaan di Desa Motolohu Selatan, Desa Siduwonge, dan Desa Patuhu, Kecamatan Randangan.
Program Cetak Sawah Rakyat Tahun 2026 di Kabupaten Pohuwato diawali dengan penandatanganan kontrak antara Balai Pengelola Lahan dan Irigasi Pertanian (BPLIP) Makassar dan Kodim 1313/Pohuwato pada 13 Mei 2026 dengan target pencetakan sawah seluas 155,19 hektare. Selanjutnya dilaksanakan MC-0 pada 22 Juni 2026 dengan masa pelaksanaan selama 57 hari kalender sebagai awal dimulainya pekerjaan fisik di lapangan.
Sebelum melakukan peninjauan lapangan, BRMP Gorontalo menggelar rapat koordinasi di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Randangan bersama seluruh pihak terkait. Pertemuan tersebut membahas perkembangan pelaksanaan pekerjaan, capaian fisik, serta berbagai kendala teknis yang memerlukan percepatan penyelesaian. Berdasarkan hasil evaluasi, hingga 1 Agustus 2026 telah berhasil dilakukan pencetakan sawah seluas sekitar 20 hektare. Dari luasan tersebut, sekitar 3 hektare telah ditanami padi, sedangkan sisanya belum dapat dimanfaatkan secara optimal karena belum tersedianya pasokan air irigasi yang memadai.
Peninjauan lapangan dilakukan untuk mencocokkan capaian fisik dengan kondisi riil, menilai kualitas hasil pekerjaan, sekaligus mengidentifikasi berbagai faktor penghambat percepatan pemanfaatan lahan. Selain meninjau lokasi yang sedang dikerjakan, tim juga mengunjungi sejumlah hamparan lahan yang diusulkan masyarakat sebagai calon lokasi Program Cetak Sawah Rakyat pada tahun berikutnya. Antusiasme masyarakat dinilai semakin meningkat setelah melihat keberhasilan pemanfaatan lahan hasil Program Cetak Sawah Rakyat Tahun 2025.
Hasil monitoring menunjukkan bahwa progres pekerjaan masih berada pada kisaran 20 hektare dari target kontrak 155,19 hektare. Selain keterbatasan dukungan anggaran yang menyebabkan pekerjaan sementara terhenti, tim juga menemukan masih adanya persoalan administrasi berupa kepemilikan tanaman kelapa pada beberapa bidang lahan yang telah masuk dalam dokumen Survey, Investigasi, dan Desain (SID). Meskipun pemilik lahan telah menyatakan persetujuan, pekerjaan belum dapat dilaksanakan karena pemilik tanaman belum memberikan persetujuan.
Permasalahan lain yang menjadi perhatian adalah belum optimalnya dukungan jaringan irigasi. Sebagian besar lahan yang telah selesai dicetak belum memperoleh pasokan air secara berkelanjutan sehingga belum dapat segera dimanfaatkan untuk budidaya padi. Di Desa Siduwonge, misalnya, terdapat hamparan sawah yang berjarak sekitar 300 meter dari pintu air jaringan irigasi sekunder, namun aliran air terhambat oleh badan jalan sehingga diperlukan pembangunan jaringan irigasi tersier yang dilengkapi flat ducker (gorong-gorong datar).
Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, BRMP Gorontalo merekomendasikan percepatan penyelesaian dukungan anggaran agar pekerjaan dapat kembali dilanjutkan sesuai target. Selain itu, diperlukan koordinasi yang lebih intensif antara pemerintah daerah, pelaksana kegiatan, penyuluh pertanian, pemilik lahan, dan pemilik tanaman untuk menyelesaikan berbagai persoalan administrasi maupun teknis yang masih menjadi hambatan di lapangan.
BRMP Gorontalo juga mendorong inventarisasi usulan lokasi baru sebagai bahan penyusunan dokumen SID tahun berikutnya, serta percepatan pembangunan sarana irigasi melalui program Pemeliharaan Jaringan Irigasi Tersier (PITER), Irigasi Perpompaan (Irpom), Irigasi Perpipaan (Irpip), dan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) agar seluruh lahan hasil Program Cetak Sawah Rakyat dapat segera dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung peningkatan produksi padi.
Melalui monitoring langsung di lapangan, BRMP Gorontalo menegaskan komitmennya untuk terus mengawal keberhasilan Program Cetak Sawah Rakyat sebagai bagian dari upaya meningkatkan luas baku sawah, memperkuat produksi pangan nasional, dan mendukung percepatan pencapaian swasembada pangan. Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, penyuluh pertanian, dan masyarakat diharapkan mampu mempercepat penyelesaian berbagai kendala sehingga seluruh target Program Cetak Sawah Rakyat Tahun 2026 dapat terealisasi sesuai rencana.